Petani Desak Pupuk Organik Digratiskan

Jember (beritajatim.com) – Asosiasi Petani Pangan Indonesia Jawa Timur mendesak agar pemerintah menggratiskan pupuk organik bagi petani.

“Selama ini penyerapan pupuk organik masih rendah. Walaupun pupuk organik disubsidi sehingga harganya murah, hanya Rp 500 per kilogram, petani masih takut pakai karena tidak cespleng,” kata Ketua APPI Jatim Jumantoro.

Petani masih terbiasa menggunakan pupuk kimia berlebihan untuk memacu pertumbuhan tanaman. Sementara di lain pihak, kandungan organik tanah semakin tipis. “Kandungan organik di tanah di bawah dua persen. Padahal idealnya minimal 5 persen,” kata Jumantoro.

Mengubah pola pikir petani tentu bukan hal mudah. Pemberian pupuk organik secara cuma-cuma diharapkan menjadi stimulus bagi petani. “Tahun 1980-an kan petani dipaksa memakai pupuk kimia. Jadi gratiskan dulu pupuk organik selama satu sampai tiga tahun ini untuk reklamasi tanah,” kata Jumantoro.

Tanda-tanda masih enggannya petani menggunakan pupuk organik sudah terbaca pada pertengahan tahun 2011.

Catatan di Tim Pengawas dan Pengendalian Pupuk (TP3) Jember, realisasi pupuk organik hingga Mei hanya 1.452 ton. Padahal, jatah Jember mencapai 19.272 ton. Serapan pupuk organik Petrokimia (Petroganik) hanya delapan persen. Petani lebih suka membuat sendiri pupuk organik daripada membelinya.

Pakde Larang Beras Impor Beredar di Jatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Gubenur Jawa Timur, Soekarwo melarang Bulog mengedarkan beras impor di Jawa Timur, Sabtu (19/11/2011). Pasalnya, stok beras yang dipunyai Jawa Timur saat ini cukup melimpah.

”Beras di Jatim saat ini sudah melebihi dari kebutuhan masyarakat, kita punyai 4 juta ton beras dari 7,6 juta ton hasil beras petani yang hanya untuk kebutuhan 3,4 juta ton. Tiga kali panen hingga bulan Desember besok lebih dari cukup,” ungkapnya, usai memberangkatkan gerak jalan Mojokerto-Surabaya, tadi sore.

Pakde (sapaan akrab, red) menambahkan, tidak ada alasan untuk Bulog impor beras apalagi digunakan untuk pencairan raskin. Karena selain stok yang cukup melimpah, jika impor beras dibiarkan maka akan menurunkan harga gabah petani.

”Ini sikap pemerintah, Bulog dilarang untuk impor beras. Seharusnya, justru Bulog membeli beras di masyarakat. Beras impor dilarang beredar di Jatim karena ini hanya akan menjatuhkan harga gabah di tingkat petani,” katanya.

Jika memang Bulog menyatakan, stok beras untuk Rumah Tangga Sederhana (RTS) terbatas, masih kata Pakde, Bulog tidak fair. Karena memang stok beras di Jatim sangat melimpah, tugas Bulog, lanjut Pakde adalah untuk membeli beras dari petani bukan mengimpor beras.

”Kita sudah mengintruksikan ke daerah-daerah, agar meminta Bulog untuk segera mencairkan raskin. Tidak ada jumlah raskin terbatas melihat situasi di lapangan, Bulog tidak fair kalau mengatakan seperti itu,” lanjutnya ketika disinggung tentang terbatasnya jumlah raskin di sejumlah daerah.

Sumber: Beritajatim.com

Vietnam Penyuplai Cabai Impor Terbesar Indonesia

  Jakarta – Meskipun memiliki lahan pertanian cabai yang cukup memadai, Indonesia tercatat masih melakukan importasi cabai segar terutama dari Vietnam. Harga cabai di dalam negeri yang sempat fluktuatif beberapa waktu membuat bisnis cabai impor menggiurkan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) selama Juni 2011 tercatat impor cabai segar-dingin, terbesar dilakukan dari negara Vietnam sebanyak 65 ton dengan nilai US$ 51,320 ribu dan India sebesar 50 ton dengan nilai US$ 34 ribu.

Total impor cabai selama Juni 2011 saja, tercatat 117,673 ton dengan nilai US$ 93,548 ribu. Namun sepanjang semester I-2011, impor cabai mencapai 6,794 ribu ton dengan nilai US$ 6,192 juta

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana mengatakan untuk pertama kalinya harga cabai lokal menembus angka tinggi berkepanjangan yaitu berlangsung dari akhir 2010 sampai Maret 2011. Sehingga menurutnya sangat normal jika pelaku bisnis memanfaatkan peluang tersebut dengan mengimpor cabai dari beberapa negara tetangga.

Apalagi, lanjut Dadi, cabai termasuk komoditi yang tidak diatur tata niaga importasi dengan kata lain bebas mengimpor. Sementara komoditi lain seperti beras dan gula diatur soal tata niaga impornya.

“Sekarang sudah tidak ada lagi (impor) karena harga lokal jatuh berkepanjngan,” kata Dadi kepada detikFinance, Minggu malam (7/8/2011).

Ia mengakui saat gencar-gencarnya cabai impor masuk, secara langsung telah memukul harga cabai petani lokal. Disaat bersamaan beberapa waktu lalu produksi cabai lokal berlimpah.

“Iya, pokoknya nggak sehat lah. Ada yang masuk ke pasar tradisional ada juga diserap industri pasta,” jelas Dadi.

Sumber: Suhendra – detikFinance

Kotoran Gajah Bisa Jadi Kertas

GIANYAR, KOMPAS.com — Siapa sangka kotoran gajah yang bau dan terlihat menjijikkan bisa bermanfaat bagi manusia. Di Bali Safari and Marine Park, Kabupaten Gianyar, Bali, kotoran gajah bisa diolah menjadi kertas.
Kotoran gajah masih berupa serat karena gajah tidak dapat mengolah semua makanan di perutnya.

Bali Safari and Marine Park resmi membuka Safari Poo Paper Factory atau pabrik kertas daur ulang dari kotoran, Sabtu (5/11/2011). Di tempat inilah, kotoran gajah dikumpulkan, diproses, dan dijadikan kertas daur ulang.

Menurut Hans, dalam satu hari seekor gajah makan hingga sebanyak 250 kilogram (kg) makanan berupa tanaman dan buah-buahan. Dalam sehari, seekor gajah menghasilkan kotoran sebanyak 50 kg.

“Satu gajah bisa menghasilkan seratus lembar kertas daur ulang setiap hari,” kata Hans. Padahal, Bali Safari memiliki koleksi 30 gajah. Artinya, dalam satu hari semua kotoran gajah itu mampu diolah menjadi sebanyak 3.000 lembar kertas.

Proses pembuatan kertas tersebut mirip proses pembuatan kertas daur ulang pada umumnya. Prosesnya pun membutuhkan kertas-kertas bekas. Perbedaannya hanya ada campuran kotoran gajah untuk memberi kesan artistik pada kertas, yaitu berupa serat-serat halus.

Namun, kotoran yang akan digunakan harus diproses dulu, yaitu dengan dicuci dan direbus. Setelah kertas sudah jadi, kertas tersebut tidak lagi berbau dan beracun.

Hans mengatakan, pabrik kertas ini untuk sementara hanya digunakan untuk tujuan pendidikan, bukan produksi massal. “Kalaupun diolah, ya untuk souvenir dulu,” katanya.

Sumber: Kompas

Pencuri Apel Merajalela, Petani Persenjatai Diri


BUMIAJI – Para petani Apel di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji siaga satu akibat maraknya aksi pencurian buah khas Batu itu. Semalam para petani di Dusun Gerdu melaksanakan jaga malam dengan membawa berbagai senjata. Akibat aksi pencuri buah, kerugian para petani apel di desa itu mencapai puluhan juta rupiah.
Aksi pencuri terbilang rapi sebab sampai saat ini warga belum berhasil menangkap pelaku. Maling apel itu diperkirakan sebuah komplotan yang terorganisir dan memiliki jaringan kuat di desa tersebut. Sebab, mereka mampu mengetahui kebun Apel milik petani yang siap panen.
Selain itu dalam melancarkan aksinya, mereka tergolong ahli karena mampu bertindak dengan cepat. Menurut kesaksian warga, gerombolan itu merupakan komplotan yang memiliki modal. Pasalnya, dalam menjalankan aksi pencurian mereka juga membawa pick up serta sepeda motor.
Warga menduga, maling tersebut memiliki ‘orang’ di Desa Tulungrejo yang bertugas memantau lahan siap panen. Pencurian tersebut membuat petani mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Di Dusun Gerdu saja, dua petani sudah mengalami kerugian diatas Rp 6 juta.
‘’Wong buah Apel milik pak Lurah (Kades) saja juga dicuri kok mas. Sejak Sabtu (29/10) lalu warga berjaga. Kami semua, tua muda siaga sejak Sabtu (29/11) lalu,’’ jelas Endik Cahya Setya Utama pemuda RT 1 RW 6 kepada Malang Post.
Menurut Endik, lahan Apel milik ayahnya, Utomo (51 tahun) baru saja kecurian beberapa hari lalu. Pencurian itu menyebabkan keluarga Utomo menderita kerugian diatar Rp 1,4 juta. Pelaku menggasak buah Apel sebanyak tiga glangsi dengan perkiraan mencapai dua kwintal.
‘’Apel itu dicuri ketika harganya Rp 7000/kg mas, pencurian terus terjadi meskipun Apel saat ini harganya hanya Rp 3.500/kg,’’ papar dia.
Enggan kecolongan, warga melakukan jaga malam dimulai setelah Magrib hingga Subuh. Mereka menjaga lahan Apel milik masing-masing, terutama tanaman Apel yang sudah siap panen. Pencurian terakhir dilakukan pada Sabtu (29/10) lalu ketika proses jaga malam mulai diberlakukan.
‘’Ada yang bilang pelaku memakai pick up warna merah dan putih, namun sampai saat ini belum tertangkap,’’ imbuh Arif Wahyudita anak petani setempat.
Lantaran geram, Dita sapaan akrab pemuda itu bahkan membawa senapan angin kaliber 4,5 mm saat berjaga. Maling yang tertangkap akan dia tembak supaya kapok dan enggan beraksi. Pasalnya, lahan Apel milik ayahnya bernama Hariono sudah menderita kerugian diatas Rp 5 juta.
‘’Sabtu lalu yang dicuri sekitar tiga sampai lima keranjang harganya Rp 3.500 – Rp 4000 per kilogram’’ terangnya geram.
Sebelum peristiwa terakhir, lahan Apel milik keluarganya juga dikeruk maling mencapai lima kuintal. Saat itu pihaknya menderita kerugian besar sebab harga Apel tengah mencapai titik tertinggi sekitar Rp 9.000/kg. Perkiraan Dita, setelah aksi itu pencurian berhenti karena harga Apel anjlok.
‘’Ternyata pencurian tetap terjadi mas, bahkan Pak Lurah saja pernah ikut jaga sampai pagi, sampai saat ini pejabat paling tinggi yang sudah turun ya baru pak Lurah,’’ bebernya.
Sampai saat ini kerugian secara riil akibat maraknya pencurian Apel belum diketahui secara riil. Namun dipastikan mencapai puluhan juta rupiah sebab Desa Tulungrejo adalah sentra buah Apel. Pasalnya, selain keluarga Dita dan Endik masih banyak petani yang memiliki lahan Apel berhektare-hektare.
‘’Kami berjaga membawa pentungan, senapan, namun dilarang membawa senjata tajam oleh Pak Lurah, khawatir ternyata pelakunya adalah warga sini sendiri,’’ pungkasnya.
Menurut Dita, selama berjaga warga mengelilingi areal lahan Apel milik mereka. Selain itu warga juga memeriksa kebun yang berada di dekat jalan raya. Sebab, pelaku seringkali meletakkan buah Apel dipinggir jalan untuk diangkut komplotannya.
‘’Pelaku membuat pintu khusus di kebun Apel yang dekat jalan raya, sehingga proses angkut ke dalam pick up bisa mudah, kamu berjaga hingga 10 hari ke depan,’’ pungkasnya.
sumber: Malang-post

Wow! Siswi SMP 1 Gresik Temukan Alat Pengering Ikan


Gresik (beritajatim.com) – Nelayan di Kota Gresik tidak mengeluh lagi saat mengeringkan ikan di musim hujan. Pasalnya, tiga siswa SMP Negeri 1 Gresik menemukan alat pengering ikan tanpa mengandalkan sinar matahari.

Ketiga siswa yang menemukan alat pengering ikan M.Akbar, Achmad Lukman Hakim, dan Rizki Taufan Rizal mampu menciptakan alat yang diberi nama ‘Pipikiko’. Singkatan kata itu kepanjangannya api, pipa, kipas, dan kotak. Atas penemuan alat terbaru tersebut, tiga siswa asal SMP Negeri 1 Gresik berhasil menyabet medali emas di event Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2011 di Kota Solo.

Menurut Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Gresik Sutrisno, alasan dipilihnya alat pengering ikan karena dari tiga siswa yang menciptakan salah satu diantaranya berasal dari keluarga nelayan. Sebab, dirinya pernah bercerita ayahnya menghadapi kendala jika akan menjemur ikan di saat musim hujan. “Alat ini sebenarnya sangat praktis karena strukturnya sederhana dan tidak perlu modal besar,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (03/11/2011).

Masih kata Sutrisno, jika memungkinkan pihaknya siap memproduksi massal alat pengering ikan asal mendapat rekomendasi dari Dinas Pendidikan (Disdik) Gresik. “Alat ini tergolong ramah lingkungan. Sebab, batubara yang digunakan untuk pengapian difilter terlebih dulu,” tuturnya.

Sementara itu, Achmad Lukman Hakim menuturkan, alat pengering ini mampu menampung 2 kilo ikan berukuran kecil. “Untuk sekali oven butuh waktu 7-8 jam dengan suhu 35-50 derajat celcius,” ujarnya.

Bidik UMKM, Microsoft Luncurkan MDP

Surabaya (beritajatim.com) – Kurang dari 20 persen dari 50 juta pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) masih belum memiliki akses ke komputer. Akibatnya, pemasaran dan stretegi manajemen mereka pun sangat terbatas. PT Microsoft Indonesia bersama PT Metrodata E Bisnis, mencoba mengangkat perkembangan UMKM melalui “Market Development Program” (MDP).

“MDP ini kami tujukan untuk komunitas bisnis yang tersebar di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara. Kami akan mengenalkan MDP ini kepada para pelaku UMKM yang ada 5 wilayah ini, terutama manfaat software Microsoft yang asli bagi keperluan bisnis mereka,” ujar Amalia Fahmi, Director SMS&P, PT Microsoft Indonesia, saat pembukaan kantor operasional MDP di Surabaya, Kamis (3/11/2011).

Dikatakan, saat ini di Tanah Air, masih sedikit sekali UMKM yang melek teknologi informasi. Kalaupun ada, sebagian dari mereka lebih suka memilih software yang bajakan dengan tingkat kenyamanan dan keleluasaan pemanfaatan software yang sangat terbatas. Image mahal untuk pembelian software yang asli masih melekat dibenak pengusaha UMKM.

“Kami bangga mampu menguasai pasar Indonesia secara dominan, karena hampir sebagian besar coorporate maupun perorangan memilih menggunakan Microsoft yang memang sudah dikenal sejak lama oleh konsumen dalam negeri. Tetapi kami sedih karena masih sedikit sekali UMKM yang memanfaatkannya secara optimal. Untuk itu kami menyediakan program MDP ini dengan biaya berlangganan khusus UMKM yang lebih murah, yakni hanya USD 6 per user per bulannya,” beber Amalia.

Hal sama juga diungkapkan oleh Chandra Pragoyo, Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Jatim, mengakui dari semua produk komputer yang dijual anggotanya, baru 20-25 persen saja yang sudah disertai dengan pembelian software asli. Hal yang sama juga terjadi untuk penjualan komputer dikalangan pelaku UMKM yang masih banyak tergiur dengan hardware kosongan.

“Meskipun masih banyak yang main petak umpet dengan software tak asli tetapi saat ini anggota kami sudah tak mau lagi menyediakan software bajakan. Karena selain konsumennya sudah sadar dan lebih memilih kenyamanan, anggota kami juga mulai sadar bahwa menawarkan yang bajakan hanya akan mematikan usahanya,karena nantinya akan berurusan dengan polisi,” sela Chandra.

Anwar Hadiyanto, Sales Director PT Metrodata E Bisnis, sebagai pelaksana MDP dilapangan nantinya, juga menjamin, para pelaku UMKM tak hanya akan mendapatkan software Microsoft asli yang lebih murah tetapi mereka juga akan mendapatkan pendidikan dan pelatihan tentang pemanfaatan fitur-fitur seperti exel, world hingga powerpoint yang nantinya akan menunjang perkembangan bisnis mereka.

“Selama ini kebanyakan orang yang masih awam hanya tahu kalau Microsoft itu hanya world saja dan akhirnya banyak fitur lain yang sudah include didalamnya tak termaksimalkan sebagai penunjang bisnis mereka. Nah melalui program ini kami akan mengupas semua kebutuhan dan fitur apa saja yang ditawarkan Microsoft kepada pelaku UMKM. Dengan begitu mereka bisa mempresentasikan usaha mereka di internet dengan tampilan yang jauh lebih menarik,” tandasnya.
sumber: beritajatim.com

Afrika Selatan: “Indonesia Negara Penting Sektor Pertanian”


Pretoria – Indonesia memiliki peran yang sangat penting di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan karena memiliki keunggulan geografis serta dukungan sumber daya alam yang beraneka ragam. Hal ini disampaikan oleh Mr. Langa Zita, Direktur Jenderal Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Afrika Selatan, pada Senin 31 Oktober 2011 di Agriculture Place Building, Pretoria, saat menerima kunjungan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian RI, Hari Priyono yang didampingi oleh Kepala Badan Karantina Pertanian, Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, serta Kepala Pusat Kerjasama Luar Negeri.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam tersebut, pemerintah Afrika Selatan melalui Department of Agriculture Forestry and Fisheries (DAFF) menyambut baik inisiatif Indonesia untuk menindaklanjuti kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ditandatangani pada tahun 2005, ke dalam bentuk Action Plan yang lebih konkret dan rinci. Menurut Zita, kerjasama dengan pihak Indonesia akan membuka akses pasar sektor pertanian terbesar Asia Tenggara, demikian pula sebaliknya, Afrika Selatan merupakan market potensial terbesar dan dinamis di wilayah Afrika.

Dalam rancangan action plan yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian RI, Indonesia mengusulkan beberapa kerjasama pertanian dengan Afrika Selatan, antara lain dalam Produksi pertanian dan peternakan, Pengembangan bersama riset dan teknologi, Perdagangan dan investasi komoditas pertanian, Pengembangan SDM pertanian, serta Penanganan masalah keamanan pangan. Sementara itu, meski belum memeberikan tanggapan tertulis sebelumnya, secara khusus pihak Afrika Selatan menaruh perhatian pada pengembangan Small Holder, Agroindustri dan perdagangan komoditas pertanian.

Kedua pihak akhirnya sepakat untuk memfinalisasi draft action plan dalam waktu beberapa bulan kemudian, sehingga dapat ditandatangani pada awal tahun 2012. Diharapkan dengan adanya kesepakatan action plan tersebut, Indonesia dan Afrika Selatan dapat bersinesgi secara progresif dalam upaya peningkatan kualitas maupun kuantitas produksi pertanian masing-masing, serta dapat saling membantu dalam menghadapi persaingan global ketahanan dan keamanan pangan di masa mendatang.
Sumber: Deptan.go.id

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.